Cerita Seks Doorprize Arisan Tante | Cerita Sex 2017
Home / Cerita Seks Tante Tante / Cerita Seks Doorprize Arisan Tante

Cerita Seks Doorprize Arisan Tante

Cerita Seks Dewasa Doorprize Arisan Tante, belakangan ini dari ibu muda sampe berumur masih suka melaqukan Arisan entah ada sebab lainnya adri tujuan tersebut, apalagi dikota besar yang umumnya dipenuhi kaum metropolis, mulai dari gosip apa yang sedang terjadi di televise, gosip berlian tentang harga dan kualitasnya, gosipin temannya sendiri.

Cerita Seks Dewasa Doorprize Arisan Tante

cerita sex tante 2017, cerita hot tante 2017, cerita tante hot 2017, cerita hot tante tante 2017, kumpulan cerita tante hot 2017, cerita x tante 2017, cerita tante tante hot 2017, cerita sesk tante 2017, cerita hot tante montok 2017, cerita hot tante muda 2017, kumpulan cerita hot tante 2017, cerita tante haus 2017, cerita ml tante tante 2017, cerita hot tante cantik 2017

Cerita Seks Doorprize Arisan Tante

Namun dalam cerita ini aqu dikagetkan dari seseorang bila Ibu Siska suka brondong, diingat usianya yang menginjak umur 45 tahun aqu tidak percaya akan gosip tersebut? Tapi dari teman teman yang lain seperti Ibu Amel mengngangguk kepala kepadaqu bahwa ternyata Ibu Siska suka dengan pria yang umurnya masih belasan tahun.

“Woalaaah…Bu Amel masya enggak percaya sih?” kata Bu Lina lagi. Aqu sudah janda hampir 10 tahun, sejak perkawinan suamiku dengann istri mudanya. Aqu tak nuntut apa-apa, keculi Julius putra tunggalku harus bersamaqu dan rumah yang kami benagun bersama, menjadi milikku. Aqu sakit hati sekali sebenarnya.

Situs Sex Terlengkap – Justru perkawinan suamiku, karena katanya aqu tidak bisa melahirkan lagi, sejak peranakanku diangkat, ketika aqu dinyatakan terkena tumor rahim. Suamiku mengaqui, kalau permainan seksku masih sangat Ok.

Dalam usia 37 tahun, aqu masih keliahatan cantik dan seksi. “Lihat tuh, Bu Amel. Matanya asyik melirik anak bu Amel terus tuh,” kata Bu Salmah tetanggaqu itu. Kini aqu jadi agak percaya, ketika aqu melihat dengan jelas, Bu Siska mengedipkan matanya ke putra tunggalku Julius.

Rasanya aqu mau marah, kenapa Bu Siska mau mengincar putraqu yang masih berusia hampir 15 tahun berkisar 12 hari lagi. Sepulang dari arisan, aqu sengaja mendatangi tetangga yang lain dan secara lembut menceritakan apa yang diceritakan Bu Salmah kepadaqu.

Tetanggaqu itu tertawa cekikikan. Dari ceritanya, suami bu Siska sudah tak sanggup lagi, bahkan suaminya sudah tahu kelaquannya itu. Bu Siska memang suka burung muda, kata mereka. Bahkan putra tetanggaqu titu pernah digarap oleh Bu Siska.

Karena malu ribut- ribut, lagi pula anaknya yang sudah berusia 18 tahun dibiarkan saja. “Laki-laki kan enggak apa-apa bu. Kalau anak perempuan, mungkin perawannya bisa hilang. Kalau anak laki-laki, siapa tahu perjakanya hilang,” kata tetanggaqu pula.

Bulu kudukku berdiri, mendengarkan celoteh tetanggaqu itu. Aqu kurang puas denga dua informasi itu. Aqu bertandang lagi ke tetanggaqu yang lain masih di kompleks perumahan …..(Dirahasiakan) Indah.

Tetangku itu juga mengatakan, kalau itu soal biasa sekarang ini. Malamnya aqu ngobrol-ngobrol dengan putraqu Julius. Julius mengatakan, kalau Tante Siska sudah mengodanya. Bahkan sekali pernah menyalaminya dan mempermainkan jari telunjuknya di telapak tangan putraqu.

Pernah sekali juga, kata putraqu, Tante Siska mengelus burung putraqu dari balik celananya, waktu putraqu bermain ke rumah Tante Siska. Aqu sangat terkejut sekali mendengar pengaquan putraqu Julius menceritakan tingkah laqu Bu Siska.

Tapi tetanggaqu mengatakan, itu sudah rahasia umum, dan kini masalah itu sudah biasa. Bahkan tetanggaqu mengajakku untuk berburu burung muda bersama-sama. Malamnya aqu tak bisa tidur. Aqu sangat taqut, kalau putraqu akan menjadi korban dari ibu-ibu di kompleks itu.

Sudah sampai begitu? Semua sudah menjadi rahasia umum dan tak perlu dipermasalahkan? Lamat-lamat aqu memperhatikan putraqu. Trnyata dia memang ganteng seperti ayahnya. Persis fotocopy ayahnya.

Walau masih 15 tahun, tubuhnya tinggi dan atletis, sebagai seorang pemain basket. Gila juga pikirku. Rasa taqutku marah-marah kepada Bu Siska, karean aqu juga mungkin pernah dia lihat berselingkuh dengan teman sekantorku.

Mungkin itu akan jadi senjatanya untuk menyerangku kembali, pikirku. Hingga aqu harus menjaga anak laki-lakiku yang tunggal, Julius.

Ketika Julius pergi naik sepeda mootr untuk membeli sesuatu keperluan sekolahnya, aqu memasuki kamarnya. Aqu melihat majalah- majalah porno luar negeri terletak di atas mejanya. Ketika aqu menghidupkan VCD, aqu terkejut pula, melihat film porno yang terputar.

Dalam hatiku, aqu haru semnyelamatkan putraqu yang tunggal ini. Sepulangnya dari toko, aqu mengajaknya ngobrol dari hati ke hati. “Kamu kan sudah dewasa, nak. Mami tidak marah lho, tapi kamu harus jawab sejujurnya.

Dari mana kamu dapat majalah-majalah porno dan CD porno itu,” kataqu. Julius tertunduk. Lalu menjawab dengan tenang dan malu-malu kalau itu dia peroleh dari teman-temannya di sekolah.

“Mama marah?” dia bertanya. Aqu menggelengkan kepalaqu, karena sejak awal aqu mengatakan, aqu tidak akan marah, asal dijawab dengan jujur.

Aqu harus menjadikan putra tunggalku ini menjadi teman, agar semuanya terbuka.

“Kamu sudah pernah gituan sama perempuan?” tanyaqu. “Maksud mami?”

“Apa kamu sudah pernah bersetubuh dengan perempuan?” tanyaqu lagi.

Menurutnya secara jujur dia kepingin melaqukan itu, tapi dia belum berani. Yang mengejutkan aqu, katanya, minggu depan dia diajak kawan- kawannya ke lokalisasi PSK, untuk cari pengalaman kedewasaan.

Aqu langsung melarangnya secara lembut sebagai dua orang sahabat. Aqu menceritakan bagaimana bahaya penyakit kelamin bahkan AIDS.

Jika sudah terkena itu, maka kiamatlah sudah hidup dan kehidupannya. “Teman-teman Julius, kok enggak kena MI? Padahal menurut mereka, merekaitu sudah berkali-kali melaqukannya?’ kata putraqu pula.

Ya ampun….begitu mudahnya sekarang untuk melaqukan hal sedemikian, batinku.

“Pokoknya kami tidak boleh pergi. Kalau kamu pergi

Mami akan mati gantung diri,” ancamku. “Tapi Mi?” “Tapi apa?”

“Julius akan kepingin juga. Katanya nikmat sekali Mi. Lalu bagaimana dong? Julius kepingin Mi.

Katanya kalau belum pernah gituan, berarti belum laki-laki dewasa, Mi?” putraqu merengek dan sangat terbuka. Aqu merangkul putraqu itu. Kuciumi keningnya dan pipinya denga penuh kasih sayang.

Aqu tak ingin anakku hancur karean PSK dan dipermainkan oleh ibu-ibu atau tante girang yang sering kudengar, bahkan oleh Bu Siska yang tua bangka itu.

Tanpa terasa airmataqu menetes, saat aqu menciumi pipi putraqu. Aqu memeluknya erat-erat. Aqu akan gagal mendidiknya, jika anakku semata wayang ini terbawa arus teman-temannya ke PSK sana.

“Kamu benar-benar merasakannya, sayang?” bisikku.

“Iya Mi,” katanya lemah.

Aqu merasakan desahan nafasnya di telingaqu. Yah…malam ini kita akan melaqukannya sayang. Asal kamu janji, tidak mengikuti teman-temanmu mencari PSK, kataqu tegas.

“Berarti aqu sama dengan Tony dong, Mi?”

“Tony? Siapa Tony?” tanyaqu ingin tahu, kenapa dia menyamakan dirinya dengan Tony.

Menurut cerita Julius putraqu, Tony juga dilarang mamanya mengikuti teman-temannya pergi mencari PSK, walau Tony sudah sempat juga pergi tiga kali bersama teman-teman sekelasnya.

Untuk itu, secara diam-diam Tony dan mamanya melaqukan persetubuhan. Katanya, Tony memakai kondom, agar mamanya tidak hamil.

Aqu terkejut juga mendengarnya. “Kamu tidak perlu memakai kondom, sayang. Mami yakin, kalau mami tidak akan hamil,” kataqu meyakinkannya. Seusai makan malam, Julius tak sabaran meminta agar kami melaqukannya.

Aqu melihat keinginan putra begitu mengebu-gebu. Mungkin dia sudah pengalaman melihat CD Porno dan majalah porno pikirku. Aqu secepatnya ke kamar mandi mencuci paginaqu dan membuka BH dan CD ku. Aqu memakai daster miniku yang tipis.

Di kamar mandi aqu menyisiri rambutku serapi mungkin dan menyemprotkan parfum ke bagian-bagian tubuhku. Aqu ingin, putraqu mendapatkan yang terbaik dariku, agar dia tidak lari ke PSK atau tante girang.

Putraqu harus selamat. Ini satu-satunya cara, karea nampaknya dia sudah sulit dicegah, pengaruh teman-temannya yang kuat. Jiwanya sedang labil-labilnya, sebagai seorang yang mengalami puberitas.

Begitu aqu keluar dari kamar mandi, putraqu sudah menanti di kamar. Dia kelihatan bingung melihat penampilanku malam ini. Tidak seperti biasanya. “Kamu sudah siap sayang,” kataqu. Putraqu mengangguk.

Kudekati dia. Kubuka satu persatu pakaiannya. Kini dai telanjang bulat. Aqua melapaskan dasterku. Aqu juga sudah telanjang bulat. Aqu melihat putraqu melotot mengamati tubuhku yang telanjang. Mungkin dia belum pernah melihat perempuan telanjang sepertiku di hadapannya.

Aqu duduk di tempat tidur. Kutarik tangannya agar berdiri di sela-sela kedua kakiku. Aqu peluk dia. Aqu kecip bibirnya dengan mesara. Pantatnya kusapu-sapu dengan lembut, juga punggungnya.

Dengan cepat terasa burungnya bergerak-gerak di perutku. Kujilati lehernya. dia mendesah kenikmatan. Liodahku terus bermain di pentil teteknya. Lalu menjalar ke ketiaknya dan sisi perutnya. Aqu merasakan tangan anakku mulai memagang kepalaqu.

Kuperintahkan dia untuk duduk di pangkal pahaqu. Kini dia duduk di pangkal pahaqu, dengan kedua kakinya bertumpu ke pinggir tempat tidur. Tiba-tiba aqu merebahkan diriku ke tempat tidur. dia sudah berada di atasku.

Kuminta agar dia mengisap puting susuku. Mulutnya mulai beraksi. Sementara burungnya terasa semakin keras pada rambut paginaqu. Dengan cepat pula, kurebahkan dirinya. Kini aqu yang balik menyerangnya.

Kujilati sekujur tubuhnya. Batang burungnya, telur yang menggantung di pangkal burungnya. Ku kulum burungnya dan kupermainkan lidahku pada burung itu.

“Mami…geli,” putraqu mendesah.

“Tapi enakkan, wayang,” tanyaqu.

“Enak sekali Mi,”katanya.

Aqu meneruskan kocokanku pada burungnya. Dia menggelinjang-gelinjang. Kuteruskan kucokanku. Kedua kakinya menjepit kepalaqu dan…croot.croot.crooooooot! Spermanya keluar.

Kutelan sepermanya dan kujilati batangnya agar spermanya tak tersisa. Aqu sengaja memperlihatkannya kepadanya. Kini dia menjadi lemas. Terlalu cepat dia keluar.

Mungkin sebagai pemula, dia tak mampu mengontrol diri. Kuselimuti dirinya. 20 menit kemudian, setelah nafasnya normal, aqu memberinya air minum segelas.

Lalu aqu membimbingnya ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Kusabuni burungnya dan kulap pakai handuk. Kini kami sudah terbaring berdua di tempat tidur. “Enak sayang?” tanyaqu.

Dia menagngguk. “Tapi Mi, kita kan belum begituan. Katanya kalau begituan, burung Julius masuk ke lubang memek Mami,” katanya polos. Aqu menganguk. Kamu harus segar dulu.

Nanti kita ulangi lagi. Nanti kamu boleh memasukkannya ke lubang Mami, kataqu. “Kenapa nanti Mi? Kenapa tidak sekarang?” dia mendesak. Dia sudah begitu menginginkannya pikirku.

Langsung kulumat bibirnya. Kujulurkan lidahku ke dala mulutnya. Dia langsung meresponsnya. Kini dia berganti memberikan lidahnya padaqu. Aqu mengemutnya dengan lembut.

Tanganku terus membelai-belai tubuhnya dan burungnya kuelus- elus. Sebentar saja burung itu bangkit. “Naiki Mami, sayang,” kataqu. Dia naik ke tubuhku. “Masukkan,” pintaqu. Dia mencari-cari lubangku. Kuarahkan burungnya dengan tanganku.

Setelah burung itu terasa di tengah bibir paginaqu, kuminta dia menekannya. Dia menakan burungnya dan langsung masuk, karean paginaqu sudah basah. Aqu memang sudah sangat lama merindukan ada burung memasuki paginaqu.

Setelah terhenti 5 tahun perselingkuhanku dengan seorang duda teman sekantorku (sejak dia pindah) aqu tak pernah lagi selingkuh. Burung yang besarnya cukup itu, terasa sudah mengganjal di liang paginaqu. KUkangkangkan kedua kakiku.

Aqu membiarkan burung itu tenggelam di dalamnya. Tak lama kemudian, aqu merasakan putraqu sudah mulai menarik-cucuk burungnya. Aqu biarkan saja, walaupun sebenarnya aqu sudah agak gatal ingin meresponsnya.

Lama kelamaan, aqu tak tahan juga. Aqu pun meresponnya dengan hati-hati, seakan aqu hanya melayaninya saja, bukan karean kebutuhanku. Sambil memompa burungnya, kuarahkan mulutnya untuk mengisap-isap pentil payudaraqu.

Dia melaqukannya. Aqu sudah melayang di buatnya. Sudah lama sekali aqu tidak merasakan kenikmatan itu, sementara usia yang 37 tahun, masih membutuhkannya. Kujepit kedua kakiku ke tubuh putraqu.

Aqu orgasme dengan cepat. Aqu tidak memperlihatkan, kalau aqu sudah orgasme. Perlahan-lahan aqu tetap meresponsnya, sampai aqu normal kembali. “Jangan digenjot dulu, sayang. Mami Capek. Isap saja tetek mami, sayang,” pitaqu.

Aqu tak ingin dia sudah orgasme, sementara aqu masih jauh. Dia menjilati tetekku dan mengisap-isapnya. Atas permintaanku, sekali-sekali dia juga menggigit putingku. Libidoku bangkit. Aqu mulai melayang.

Aqu mulai menggoyang tubuhnya dari bawah. Dia merespons dengan kemabli menggejotku, menarik dan mencucuk burungnya ke dalam liang paginaqu. Aqu mendengar, suara begitu becek pada paginaqu.

Aqu sedikit malu, karena selama ini, aqu sudah tidak merawat lagi paginaqu. Tapi dia semakin semangat mengocokkan burungnya. “Mami…aqu sudah mau keluar nih…” katanya. Saat itu aqu juga sudah mau muncrat.

Aqu percepat goyanganku, agar aqu lebih dulu sampai pada puncak kenikmatan itu. Dan…dia memelukku erat sekali. Bahuku digigitnya dan sebelah tangannya mencengkeram rambutku.

Ternyata kami bisa sama-sama sampai. Aqu masih mampu mengatur irama permainan ini, pikirku. Aqu keringat dan putraqu juga berkeringat. Perlahan dia ku baringkan ke sisiku dan aqu menyelimuti tubuh kami dengan selimut tipis, sekaligus melap tubuh kami dari keringat.

Setelah 15 menit aqu bangkit dan meneguk segelas air putih. Segelas kuberikan kepdanya. Julius berjanji untuk merahasiakan ini kepada siapa saja, termasuk kepada teman dekatnya.

Walau menurut Julius, temannya sudah berhubungan dengan beberapa wanita di lokalisasi PSK, namun behubungan dengan ibunya jauh lebih nikmat. Aqu juga memberi yang terbaik buat putraqu, demi keselamatan hidupnya, terhidar dari PSK dan tante giang.

Aqu menyangupi, memberinya cara lain bermain seks, seperti yang dia lihat di CD porno dan majalah-majalah, seperti doggystyle dan sebagainya.

Malam itu, Julius juga bersumpah, tidak akan pergi mencari PSK, walau pun teman-temannya menuduhnya laki-laki Kuper dan ketinggalan zaman, karena dia sudah mendapatkannya dariku dengan baik.

Sejak saat itu, kami selalu melaqukannya secara teratur, tidak serampangan. Tenatu saja di tempat tidur, di dapur, di sofa dan tempat-tempat lai di rumah kami dengan suasana yang indah. Bahkan kami pernah juga melaqukannya di hotel, ketika kami wisata ke bogor.

Semua orang memuji kegantengan putraqu yang wajahnya imut-imut dan manja itu. Kini putraqu sudah SMA, Aqu sudah persis 40 tahun. Orang bilang aqu masih tetap cantik, karean aerobik. Sebeanranya, selain aerobik, aqu juga melaqukan hubungan seks yang sangat terataur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*