Cerita Seks Menyukai Tubuh Vivie | Cerita Sex 2017
Breaking News
Home / Cerita Seks Pemerkosaan / Cerita Seks Menyukai Tubuh Vivie

Cerita Seks Menyukai Tubuh Vivie

Tempat berbagi Cerita & Foto Sex, Dewasa, ABG, HOT, Tips Bercinta : Cerita Seks Menyukai Tubuh Vivie. Perkenalanku dengan Vivie model majalah di Jakarta, dia berumur 22 tahun dengan kulit yang putih, mulus, cantik dan yang paling menarik perhatiannya adalah buah dadanya yang padat dan berisi semuanya menatap pandangan terhadap tubuhnya, apalagi saat dia sedang membusung buah dadanya terlihat separuh naik keatas.

Cerita Seks Menyukai Tubuh Vivie

kumpulan cerita sex perkosaan, cerita perkosaan sadis, cerita perkosaan nikmat, cerita perkosaan bergambar, cerita perkosaan paksa, cerita perkosaan enak, cerita perkosaan mahasiswi, cerita nyata perkosaan, cerita cerita perkosaan, cerita perkosaan pelajar, cerita perkosaan nyata, cerita perkosaan di hotel, cerita perkosaan wanita, cerita orang perkosaan, cerita perkosaan baru, cerita cinta perkosaan, cerita perkosaan pacar

Sangat proporsional dengan tubuh dan wajah Vivie. Saya berkenalan dengannya, pertama melalui surat kemudian bertemu, sesekali menelepon dirinya. Lama-kelamaan kita semakin sering bertemu dan percakapan yang ada semakin menjurus ke hal-hal yang pribadi. Akhirnya saya memberanikan diri untuk mengajaknya keluar makan malam.

Suatu hari saya memberanikan diri untuk mengajaknya dan ternyata Vivie senang sekali mendengar ajakan saya, dan langsung setuju. Saya gelisah sekali menunggu pada saat menjemput Vivie di rumahnya.

Setelah pulang kerja dan berganti pakaian saya menjemput Vivie, untuk kemudian makan malam di sebuah restoran. Di sana kami bercakap-cakap panjang lebar, setelah itu dilanjutkan sebuah diskotik untuk sedikit menggoyangkan tubuh dan minum.

Di tengah-tengah percakapan di diskotik, Vivie mengajak saya untuk kembali ke rumahnya dan melanjutkan sisa malam itu di rumahnya. Bagaimana saya bisa menolak tawaran itu?

Sepanjang perjalanan pulang Vivie berkata bahwa ia belum pernah mengalami hari yang menyenangkan seperti yang baru ia alami malam itu, dan ia juga berkata, di rumah nanti giliran dirinya yang akan membuat diri saya tidak akan melupakan malam ini.

Saya begitu bergairah dan berhasrat untuk lekas-lekas sampai ke rumah Vivie, ketika tanpa sadar saya mengendarai mobil melebihi batas maksimal kecepatan di jalan.

Tiba-tiba saya tersadar ketika di sebelah kanan sudah ada mobil Polantas yang berusaha menghentikan mobil saya. Saya meminggirkan mobil di tempat parkir sebuah toko dan menunggu Polantas tadi mendekati mobil kami.

Ia bertanya hendak ke mana kami sampai-sampai kami membawa mobil itu melebihi batas kecepatan. Rupanya alasan saya tidak masuk akal sehingga Polantas tadi meminta STNK dan SIM saya.

Setelah melihat surat-surat itu Polantas itu menjengukkan kepalanya ke dalam mobil kami dan lama sekali mengamati Vivie yang duduk terdiam.

“Anda harus meninggalkan mobil Anda di sini dan ikut saya ke kantor”, perintah Polantas tadi. Akhirnya sepuluh menit kemudian kami sampai ke sebuah kantor polisi yang terpencil di pinggir kota.

Waktu itu sudah lewat pukul 11 malam, dan dalam kantor polisi itu tidak terdapat siapa pun kecuali seorang Sersan yang bertugas jaga dan Polantas yang membawa kami.

Ketika kami masuk, Sersan itu memandangi tubuh Vivie dari bawah hingga ke atas, kelihatan sekali ia menyukai Vivie. Kami dimasukkan ke dalam sel terpisah, saling berseberangan.

Sepuluh menit kemudian, Polantas yang berumur sekitar 40-an dan berbadan gemuk dan Sersan yang tinggi besar berbadan hitam, dan umurnya kira-kira 45 tahun kembali ke ruang tahanan.

Polantas tadi berkata, “Kalian seharusnya jangan mengemudi sampai melebihi batas kecepatan yang ada.

Tapi kita semua bener-benar kagum, soalnya dari semua yang kami tangkap baru kali ini kita dapat orang yang cantik seperti kamu.” Sersan tadi menimpali, “Betul sekali, dia bener-bener kualitas nomer satu!” Saya sangat takut mendengar nada bicara mereka, begitu juga Vivie yang terus-menerus ditatap oleh mereka berdua.

Mereka lalu membuka sel Vivie dan masuk ke dalam. “Sekarang denger gadis manis, kalau kamu berkelakuan baik, kita akan lepasin kamu dan pacar kamu itu. Mengerti!” Sersan tadi langsung memegangi kedua tangan Vivie sementara Polantas menarik kaos yang dikenakan Vivie ke atas.

Dalam sekejap seluruh pakaian Vivie berhasil dilucuti tanpa perlawanan berarti dari Vivie yang terus dipegangi oleh Sersan.

“Wow, lihat dadanya.” Vivie terus meronta-ronta tanpa hasil, sementara Sersan yang tampaknya sudah bosan dengan perlawanan Vivie, melemparkan tubuh Vivie hingga jatuh telentang ke atas ranjang besi yang ada di sel Vivie. Dan dengan cepat diambilnya borgol dan diborgolnya tangan Vivie ke rangka di atas kepala Vivie.

Kemudian mereka dengan leluasa menggerayangi tubuh Vivie. Mereka meremas-remas dan menarik buah dada Vivie, kemudian memilin-milin puting susunya sehingga sekarang buah dada Vivie mengeras dan puting susunya mengacung ke atas. Kadang mereka mengigit puting susu Vivie, sedangkan Vivie hanya bisa meronta dan menjerit tak berdaya.

Saya berdiri di dalam sel di seberang Vivie tak berdaya untuk menolong Vivie yang sedang dikerubuti oleh dua orang itu. Kedua polisi itu lalu melepaskan pakaian mereka dan terlihat jelas kedua batang kemaluan mereka sudah keras dan tegang dan siap untuk memperkosa Vivie.

Polantas mempunyai batang kemaluan paling tidak sekitar 25 senti, dan Sersan mempunyai batang kemaluan yang lebih besar dan panjang. Vivie menjerit-jerit minta agar mereka berhenti, tapi kedua polisi itu tetap mendekatinya.

“Lebih baik kamu tutup mulut kamu atau kita berdua bisa bikin ini lebih menyakitkan daripada yang kamu kira.” kata Polantas.
“Sekarang mendingan kamu siap-siap buat muasin kita dengan badan kamu yang bagus itu!”

“Dia pasti sempit sekali”, kata Sersan sambil memasukan jari-jarinya ke lubang kemaluan Vivie.
Ia menggerakkan jarinya keluar masuk, membuat Vivie menggelinjang kesakitan dan berusaha melepaskan diri.

“Betul kan, masih sempit sekali.”

Kemudian Polantas tadi naik ke atas ranjang di antara kedua kaki Vivie. Kemudian mereka membuka kaki Vivie lebar-lebar dan Polantas memasukkan batang kemaluannya ke dalam lubang senggama Vivie.

Vivie mengeluarkan jeritan yang keras sekali, ketika perlahan batang kemaluan Polantas membuka bibir kemaluan, dan masuk senti demi senti tanpa berhenti. Kadang ia menarik sedikit batang kemaluannya untuk kemudian didorongnya lebih dalam lagi ke lubang kemaluan Vivie.

Sementara itu, Sersan naik dan mendekati wajah Vivie, mengelus-elus wajah Vivie dengan batang kemaluannya. Mulai dari dahi, pipi kemudian turun ke bibir. Vivie menggeleng-gelengkan kepalanya agar tidak bersentuhan dengan batang kemaluan Sersan yang hitam.

“Ayo dong manis, buka mulut kamu”, kata Sersan sambil meletakkan batang kemaluannya di bibir Vivie.
“Kamu belum pernah ngerasain punya polisi kan?” Vivie tak bergeming.

“Buka!” bentak Sersan.
“Buka mulut kamu, brengsek!” Perlahan mulut Vivie terbuka sedikit, dan Sersan langsung memasukkan batang kemaluannya ke dalam mulut Vivie.

Mulut Vivie terbuka hingga sekitar 6 senti agar semua batang kemaluan Sersan bisa masuk ke dalam mulutnya. Batang kemaluan Sersan mulai bergerak keluar masuk di mulut Vivie, saya melihat tidak semua batang kemaluan Sersan dapat masuk ke mulut Vivie, batang kemaluan Sersan terlalu panjang dan besar untuk bisa masuk seluruhnya dalam mulut Vivie.

Ketika Sersan menarik batang kemaluannya terlihat ada cairan yang keluar dari batang kemaluannya. Julurin lidah kamu!” Vivie membuka mulutnya dan mengeluarkan lidahnya. Sersan kemudian memegang batang kemaluannya dan mengusapkan kepala batang kemaluannya ke lidah Vivie, membuat cairan kental yang keluar tadi menempel ke lidah Vivie.

“San, dia nggak mungkin bisa masukin punya Sersan ke mulutnya, biar saya coba. Gantian!” Mereka kemudian bertukar tempat, Sersan sekarang ada di antara kaki Vivie dan Polantas berjongkok di dekat wajah Vivie. Sersan mulai mendorong batang kemaluannya masuk ke liang senggama Vivie. Terlihat sekali dengan susah payah batang kemaluan Sersan yang besar itu membuka bibir kemaluan Vivie yang masih sempit.

Polantas, mengacungkan batang kemaluannya ke mulut Vivie. “Kamu mungkin nggak bisa masukin punya Sersan ke mulut kamu, tapi kamu musti ngerasain punya saya ini, seluruhnya.”

Dengan kasar ia mendorong batang kemaluannya masuk ke mulut Vivie, sampai akhirnya batang kemaluan itu masuk seluruhnya hingga sekarang testis Polantas berada di wajah Vivie. Ia kemudian menarik batang kemaluannya sebentar untuk kemudian didorongnya kembali masuk ke tenggorokan Vivie. Setelah lima kali, keluar masuk, Polantas sudah tidak bisa lagi menahan orgasmenya.

“Saya keluuarrhh. Aaahhh!” Ia tidak menarik batang kemaluannya keluar dari mulut Vivie, batang kemaluannya tampak bergetar berejakulasi di tenggorokan Vivie, menyemprotkan sperma masuk ke tenggorokannya. Saya mendengar Vivie berusaha menjerit, ketika sperma Sersan mengalir masuk ke perutnya.

Terlihat sekali Sersan yang sedang mencapai puncak kenikmatan tidak menyadari Vivie meronta-ronta berusaha mencari udara.

“Iyya… yaah! Telleeen semuaa! Aaahhh… aahhh… nikhmaattt!”

Ketika selesai ia menarik keluar batang kemaluannya dan Vivie langsung megap-megap menghirup udara, dan terbatuk-batuk mengeluarkan sperma yang lengket dan berwarna putih.

Vivie berusaha meludahkan sperma yang masih ada di mulutnya. Polantas tertawa melihat Vivie terbatuk-batuk, “Kenapa? Nggak suka rasanya? Tenang aja, besok pagi, kamu pasti sudah terbiasa sama itu!”

Sementara Sersan yang masih mengerjai kemaluan Vivie sekarang malah memegang pinggul Vivie dan membalik tubuh Vivie. Vivie dengan tubuh berkeringat dan sperma yang menempel di wajahnya tersadar apa yang akan dilakukan Sersan pada dirinya, ketika dirasanya batang kemaluan Sersan mulai menempel di lubang anusnya.

“Jangan Pak, jangan! Ampun Pak, ampun, jangan…”

“Aaahkk! Jangaaan!”

Vivie menjerit-jerit ketika kepala batang kemaluan Sersan berhasil memaksa masuk ke liang anusnya. Wajah Vivie pucat merasakan sakit yang amat sangat ketika batang kemaluan Sersan mendorong masuk ke liang anusnya yang kecil.

Sersan mendengus-dengus berusaha memasukkan batang kemaluannya ke dalam anus Vivie. Perlahan, senti demi senti batang kemaluan itu tenggelam masuk ke anus Vivie.

Vivie terus menjerit-jerit minta ampun ketika perlahan batang kemaluan Sersan masuk seluruhnya ke anusnya. Akhirnya ketika seluruh batang kemaluan Sersan masuk, Vivie hanya bisa merintih dan mengerang kesakitan merasakan benda besar yang sekarang masuk ke dalam anusnya.

Sersan beristirahat sejenak, sebelum mulai bergerak keluar masuk. Kembali Vivie menjerit-jerit. Sersan terus bergerak tanpa belas kasihan.

Batang kemaluannya bergerak keluar masuk dengan cepat, membuat testisnya menampar-nampar pantat Vivie. Sersan tidak peduli mendengar Vivie berteriak kesakitan dan menjerit minta ampun ketika sodomi itu berlangsung. Saya melihat berulang kali batang kemaluan Sersan keluar masuk anus Vivie tanpa henti.

Akhirnya Sersan mencapai orgasme ia menarik batang kemaluannya dan sperma menyemprot keluar menyembur ke punggung Vivie, kemudian menyembur ke pantat Vivie dan mengalir turun ke pahanya, dan terakhir Sersan kembali memasukkan batang kemaluannya ke anus Vivie lagi dan menyemprotkan sisa-sisa spermanya ke dalam anus Vivie.

Sersan kemudian melepaskan pegangannya dari pinggul Vivie dan berdua dengan Polantas mereka keluar dari sel dan menguncinya. Saya masih dapat mendengar Sersan berkata pada Polantas, “Pantat paling hebat yang pernah ada. Dia bener-bener sempit!”

Dini hari, ketika Vivie kelelahan menangis dan merintih, mereka berdua dengan langkah sempoyongan dan dengan botol bir di tangan masuk kembali ke dalam sel Vivie.

Mereka menendang tubuh Vivie agar terbangun dan mereka mulai memperkosanya lagi. Sekarang Polantas menyodomi Vivie sementara Sersan berbaring di bawah Vivie dan memasukkan batang kemaluannya ke dalam kemaluan Vivie. Kemudian mereka berganti posisi.

Mereka juga menyiksa Vivie dengan memasukkan botol bir ke dalam liang kemaluan dan anusnya sementara batang kemaluan mereka dimasukkan ke mulut Vivie.

Mereka terus berganti posisi dan Vivie terus menerus menjerit dan menjerit hingga akhirnya ia kelelahan dan tak sadarkan diri. Melihat itu polisi-polisi tersebut hanya tertawa terbahak-bahak meninggalkan tubuh Vivie yang memar-memar dan belepotan sperma dan bir.

Keesokan paginya, Sersan masuk dan membuka sel kami.

“Kalian boleh pergi.”

Saya membantu Vivie mengenakan pakaiannya. Tubuhnya lemah lunglai berbau bir dan sperma-sperma kering masih menempel di tubuhnya.

Kami pergi dari kantor polisi itu dan akhirnya sampai ke rumah Vivie. Kemudian saya membersihkan tubuh Vivie dan menidurkannya. Ketika saya tinggal, saya mendengar ia merintih, “Jangan Pak, ampun Pak, sakit… ampuunn… sakiiit…”.

cerita dewasa, kumpulan cerita sex, blowjob, handjob, cerita sex dewasa, cerita seks dewasa, tante girang, daun muda, pemerkoHeri, cerita seks artis,cerita sex artis, cerita porno artis,cerita hot artis, cerita sex, cerita kenikmatan,cerita bokep, cerita ngentot,cerita hot, bacaan seks, cerita, Kumpulan Cerita Seks, onani dan Masturbasi, cerita seks tante,blog cerita seks, seks,sedarah seks, cerita 17 tahun,cerita bokep

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*